Hati ialah wadah perasaan, menyerupai amarah, senang, benci, iman, ragu, tenang, gelisah, dan sebagainya. Kesemuanya tertampung di dalam hati. Setiap orang tentu pernah mengalami perbedaan gejolak hati dan perpindahan yang begitu cepat antara senang dan susah, kegelisahan dan ketenteraman, bahkan cinta dan benci. seseorang tentu pernah mengalami hatinya menginginkan sesuatu, tetapi nalar orang itu menolaknya. Ini bukti bahwa orang itu tidak menguasai hatinya. Tuhan yang menguasainya.
Ketika terjadi gejolak yang berbolak itu, itu ialah bukti adanya peranan Tuhan dan kedekatan-Nya kepada hati manusia. Akan tetapi, jangan mengira bahwa semua yang tertampung di dalam hati atau perubahan dan terbolak-baliknya perasaan ialah hasil perbuatan Tuhan yang berlaku sewenang-wenang. Jangan mengira demikian karena nafsu dan setan pun ikut berperan dalam gejolak hati. Ada waswas dan rayuan yang dilakukan setan. Ada juga dorongan nafsu manusia. Jika bisikan berkaitan dengan tuntunan tauhid atau seruan Nabi Muhammad Saw, saat itu pilihlah seruan tersebut karena yang menyerunya saat itu ialah hati yang digerakkan oleh Allah.
Al-Qur’an surat al-Anfal ayat 63, yang berbicara dalam konteks penyatuan hati dan jalinan kekerabatan harmonis antara dua kelompok masyarakat Madinah Aus dan Khazraj yang tadinya selama bertahun-tahun berperang, menegaskan bahwa:
Dia (Allah Yang Maha kuasa Yang mempersatukan hati mereka. Seandainya engkau membelanjakan semua apa yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Tuhan telah mempersatukan mereka. (Qs. al-Anfal: 63).
Ayat ini mengingatkan kita semua bahwa cinta tidak dapat dibeli dengan harta. la hanya dapat diraih dengan perlindungan Tuhan melalui kebijaksanaan pekerti yang luhur.
Setiap orang memiliki naluri cinta dan benci. Cinta dan benci ialah dua hal yang tidak dapat lepas dari kehidupan. Seandainya semua orang hanya membenci, niscaya hidup tidak akan berhasil. Demikian juga sebaliknya, jikalau segala sesuatu disenangi atau dicintai termasuk yang bertolak belakang maka hidup pun tidak akan tegak.
Kebencian dapat bertambah bila keinginan dan kebutuhan tidak terpenuhi, padahal yang diinginkan itu dimiliki orang lain. Di sisi lain, kecintaan kepada sesuatu akan sangat dipertahankan bila sesuatu itu sangat diperlukan atau langka.
Kebencian melahirkan permusuhan yang pada gilirannya melahirkan perkelahian, bahkan pertumpahan darah serta pembinasaan jiwa dan harta. Tuhan Swt mempersatukan jiwa masyarakat Islam melalui aliran Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Kekikiran dan kelobaan terhadap kenikmatan materi dikikis dengan menyadarkan insan bahwa ada kenikmatan yang melebihinya, yakni kenikmatan ukhrawi. Hidup duniawi hanya bersifat sementara, dan ada hidup tepat lagi awet di alam abadi nanti.
Jalan meraih hal tersebut antara lain ialah kesediaan memberi dan berkorban untuk sesama. Demikian itu sebagian tuntunan Tuhan yang disampaikan oleh Rasul Saw, yang kemudian diterima dengan penuh kesadaran oleh kaum mukminin. Itulah yang melahirkan cinta dan menjauhkan benci dari hati mereka sehingga hati mereka saling terpaut dan pada karenanya lahir kekerabatan harmonis. Di daerah lain ditegaskan-Nya bahwa,
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan bersedekah saleh, Tuhan Yang Maha Pemurah akan menimbulkan bagi mereka wudda (cinta plus). (Qs. Maryam: 96)
Dengan demikian, beliau bisa memberi dan mendapatkan mawaddah. Dia tidak akan bertepuk sebelah tangan.
Banyak sekali orang yang dinilai telah menjalin cinta antar-mereka sebelum pernikahan, tetapi ternyata, setelah pernikahan, cinta itu layu, bahkan terjadi perceraian dan permusuhan. Sebaliknya, dulu banyak ijab kabul yang tidak didahului oleh cinta, bahkan oleh perkenalan pun, tetapi kehidupan rumah tangga mereka sedemikian kukuh dan ternyata antara mereka terjalin kekerabatan cinta yang demikian mesra melebihi kemesraan para muda-mudi sampaumur ini yang “bercinta” sebelum pernikahan.
Kenyataan tersebut menandakan bahwa ada keterlibatan Tuhan dalam langgengnya cinta yang dianugerahkan-Nya kepada mereka yang beriman dan bersedekah saleh atau, dengan kata lain, kepada mereka yang mengikuti tuntunan-tuntunan-Nya.
Dua orang yang bercinta akan melaksanakan penyatuan diri sehingga masing-masing bagaikan berkata kepada kekasihnya: “Jika engkau berbicara maka kata hatiku yang engkau ucapkan, dan bila engkau berkeinginan maka keinginanmu yang saya cetuskan. Engkau ialah aku, dan saya ialah engkau”. Makna inilah yang diisyaratkan oleh kata anfusikum pada ayat dalam surat ar-Rum ayat 21.
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, biar kau cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Qs. Ar-Rum: 21)
Kata tersebut ialah bentuk jamak dari kata nafs yang antara lain berarti jenis, diri, atau totalitas sesuatu. Penggunaan kata anfusikum mengisyaratkan bahwa pasangan suami istri hendaknya menyatu sehingga menjadi nafsin wahidah diri yang satu, yakni menyatu dalam perasaan dan pikirannya, dalam cita dan harapannya, dalam gerak dan langkahnya, dalam keluh kesah dan perasaannya, bahkan dalam menarik dan mengembuskan napasnya. Itu sebabnya ijab kabul dinamai zawaj, yang berarti keberpasangan, di samping dinamai juga nikah yang berarti penyatuan ruhani dan jasmani.
Penyatuan itu harus diperjuangkan. Dua orang yang lahir dari orang bau tanah yang sama, hidup di tengah keluarga yang sama pula, tidak otomatis menyatu pikiran dan perasaan serta serupa kecenderungan dan keinginannya, apalagi dua orang yang berbeda jenis kelamin dan lahir serta besar dalam lingkungan keluarga yang berbeda.
No comments:
Write comments